Buras

Adab Tuan Rumah Asian Games!

H. Bambang Eka Wijaya. (Dok. Lampost.co)

MEMASUKI tahun politik, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir berharap komponen bangsa dapat memelihara keadaban, kebersamaan, kedamaian, toleransi, dan keutamaan. Kontestasi politik tidak perlu menjadi penyebab keretakan, konflik, apalagi permusuhan antarsesama komponen bangsa. (Kompas, 13/8/2018)

Tahun politik dimaksud telah kita masuki sejak pendaftaran calon presiden dan wakil presiden pekan lalu. Bersamaan dengan itu, hari ini Pesta Olahraga Bangsa Asia (Asian Games 2018) dibuka dengan negara dan bangsa kita sebagai tuan rumah. Menjadi amat tepat keadaban tersebut kita amalkan dalam keberadaan kita sebagai tuan rumah Asian Games.



Adab tuan rumah itu bisa tidak jauh beda dengan ketika di rumah ada pesta, banyak tamu undangan dari jauh dan dekat. Semua keluarga besar sibuk melayani tamu-tamu tersebut, sesuai dengan bidang yang diatur sebelumnya. Untuk itu juga dibantu sanak saudara dan tetangga yang ikut melayani tamu sebaik mungkin.

Demikian pula semestinya segenap komponen bangsa sebagai tuan rumah Asian Games. Selain membantu secara fisik langsung bagi yang mendapat penugasan formal, bagi warga bangsa di luar itu bisa membantu dengan sikap yang mendukung.

Seperti saat di rumah ada pesta, anak-anak tidak ada yang gaduh saling mengejek, caci-maki, menghina atau bahkan membuat keributan. Mereka semua menjaga kehormatan keluarga di depan tamu. Itu bahkan menjadi bagian penting adab di depan tamu.

Demikian pula diharapkan pada segenap komponen bangsa untuk tidak berbuat yang memalukan, apalagi mempermalukan bangsa. Baik itu dalam bentuk tindakan langsung maupun melalui media massa, termasuk media sosial. Sebaiknya, selama ramai tamu, tidak menebar caci-maki, fitnah, apalagi mempertunjukkan hoaks-hoaks dengan tujuan memperburuk citra bangsa.

Penting disadari, Indonesia adalah sebuah contoh bagi dunia, di mana masyarakat yang beraneka ragam dalam ratusan suku dan bahasa daerah serta beraneka agama, bisa hidup rukun dan damai dalam kesatuan bangsa. Padahal di negeri yang ekonomi dan ipteknya lebih maju, semisal kawasan Balkan atau bekas Uni Soviet, perbedaan sejenis telah membuat negara mereka terpecah-belah.

Keadaban yang kita aktualisasikan dalam tahun politik dan tuan rumah Asian Games, akan menjadi dasar kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat negara-bangsa ke depan. Warisan peradaban rukun dan damai jelas lebih baik bagi generasi mendatang ketimbang konflik berkepanjangan seperti di Timur Tengah.

Komentar